BERITA MUBA sangat berterima kasih apabila Anda memberikan suatu bentuk apresiasi dalam bentuk kritik, saran, komentar ataupun tulisan dan opini karena hal tersebut akan sangat membantu untuk pembanggunan MUBA di masa mendatang. Kirim Tulisan/Opini ke asahnet@gmail.com atau asahinternet@yahoo.com

Monday, December 4, 2006

Akhir Tradisi Menyuling Minyak di Sungai Angit

BARANGKALI terdengar aneh. Di tengah-tengah kebun karet terdapat usaha industri minyak yang dijalankan sejak proses paling hulu hingga hilir. Lengkap, mulai dari well (sumur minyak) hingga kilang pengolahannya berada dalam satu lokasi. Akan tetapi, tambang yang satu ini berbeda dengan bayangan awam bahwa sebuah areal tambang minyak lazim dipenuhi oleh berbagai peralatan berat, truk-truk tangki, dan berbagai peralatan modern lainnya. Atau pemandangan pompa yang bergerak secara otomatis dan para pekerja dengan helm proyek. Atau juga kilangnya, tangki-tangki raksasa dengan berbagai peralatan, dan tentu saja papan larangan merokok di mana-mana!
Tidak demikian industri minyak bumi yang berada di tengah kebun karet di Desa Sungai Angit, Kecamatan Babat Toman, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Semua dalam skala yang kecil dan sederhana. Mulai dari sumur minyak, tempat penyulingan, peralatan yang digunakan, semua serba sederhana dan berukuran kecil. Tak kita temukan papan larangan merokok. Di tambang minyak yang rawan kebakaran itu para pekerja dengan bebas merokok, baik di areal tambang maupun penyulingan.
"Hanya rokok inilah teman kerja kami," kata Poniman, salah seorang penambang sambil mengisap rokok. Di tengah lokasi penambangan dan tempat penyulingan itu dia juga ditemani seekor anjing kecil berwarna cokelat.

Sumur dan kilang minyak di tengah kebun karet milik warga Desa Sungai Angit itu terletak sekitar 180 kilometer arah barat dari Kota Palembang. Warga Desa Sungai Angit telah melakukan penambangan minyak secara tradisional. Mereka biasa menyebutnya molot minyak dan menyulingnya menjadi solar, minyak tanah, dan bensin secara turun-temurun.
Tentu saja teknologi penambangan dan penyulingan yang digunakan amatlah sederhana. Begitu pula peralatan yang mereka gunakan. Untuk mengeluarkan minyak mentah dari dalam perut bumi, yang mereka sebut "minyak hitam", digunakan semacam timba terbuat dari seng berbentuk tabung.
Untuk menariknya, mereka memakai sebuah roda timba seperti lazimnya sumur air dengan tali ulir plastik yang berukuran sangat panjang. "Kedalaman sumur ini sekitar 200 meter. Untuk satu kali timba, saya harus menarik bolak-balik sebanyak empat kali," papar Poniman.
LANTARAN panjangnya tali timba, juga akibat beban setelah tabung timba berisi minyak mentah, para penambang minyak ini harus menarik tali dengan berjalan menjauhi sumur.
"Satu tabung ini isinya sekitar satu jeriken atau 20 liter minyak hitam," tutur Poniman. Akibat seringnya terkena tali, akar pohon di sekitarnya terlihat terpotong. Minyak hitam yang dikumpulkan ini kemudian dibawa ke kilang atau penyulingan sederhana yang berjarak sekitar 50 meter dari sumur minyak.

Tempat penyulingan itu sendiri hanya terdiri dari sebuah jeriken berisi bahan bakar, sebuah drum, tempat pembakaran, dua bak air pendingin, dan sebuah pipa sepanjang kurang lebih 10 meter. Pipa besi ini menurut Poniman merupakan peninggalan Belanda.
Minyak hitam itu dimasukkan ke dalam drum bekas tempat aspal berkapasitas sekitar 200 liter minyak. Drum yang telah berisi minyak sekitar sembilan jeriken minyak mentah tersebut kemudian dibakar. Uap minyak itu kemudian dialirkan ke dalam pipa yang telah dilengkapi pendingin sehingga mengembun. Setelah terdestilasi dalam beberapa tingkat, maka dihasilkanlah minyak tanah, solar, dan bensin. "Biasanya minyak tanah dan bensin dicampur. Nanti oleh tauke atau pengumpul, dioplos dan semuanya dianggap bensin. Hanya solar yang dibedakan karena warnanya kuning," ungkap Poniman. Poniman yang hanya menjadi buruh pemolot dan penyuling ini mengaku dibayar Rp 3.000 untuk tiap jeriken minyak yang dihasilkan. Setiap hari, Poniman rata-rata hanya mampu menghasilkan sekitar tujuh jeriken minyak olahan. Untuk itu dia mendapatkan upah Rp 21.000.
Menurut Mala, salah seorang pengumpul minyak olahan, harga solar Sungai Angit dijual sekitar Rp 1.400 per liter, sedangkan untuk bensin sekitar Rp 1.750. Memang lebih murah dari bensin resmi Pertamina.

PENAMBANGAN dan penyulingan minyak tradisional di Sungai Angit ini telah berlangsung cukup lama. Menurut Kepala Desa Sungai Angit, Tubi Tohet, usaha pertambangan minyak di desa ini pertama kali dilakukan oleh penjajah Belanda pada tahun 1911. Penambangan secara tradisional oleh warga Sungai Angit mulai dilakukan sejak tahun 1953 dan sempat terhenti akibat pergolakan politik waktu itu.
Aktivitas penambangan dimulai lagi sekitar tahun 1962, dan sejak tahun 1974 sebagian besar warga Sungai Angit menggantungkan hidupnya dari menambang dan menyuling minyak.
Menurut Tubi, di desa seluas kurang lebih 10.000 hektar ini terdapat 321 sumur minyak yang sebagian besar sudah rusak. Saat ini, hanya sekitar 75 sumur yang ditambang warga.
Dari sekitar 198 keluarga yang ada di desa ini, sebanyak 108 di antaranya mencari nafkah dengan menjadi penambang minyak tradisional. Setiap hari sekitar 150 barrel minyak mentah dihasilkan dari usaha penambangan warga Desa Sungai Angit. Hasil minyak olahan sebanyak 75 hingga 80 persen dari minyak mentah yang mereka hasilkan.

Tubi mengakui, tambang minyak rakyat ini ilegal. Nantinya akan menjadi legal manakala kilang mini yang dibangun PT Kilang Muba selesai dibangun. PT Kilang Muba adalah anak perusahaan PT Petro Muba, sebuah badan usaha milik daerah Musi Banyuasin yang bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung.
SEIRING rencana Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin yang akan membangun kilang mini, tradisi menyuling minyak oleh warga ini akan berakhir. Nantinya, masyarakat hanya dilegalkan untuk memolot minyak, tetapi tidak diperbolehkan menyuling.
Presiden Direktur PT Petro Muba Robert Heri mengatakan, rencana melegalkan tambang rakyat ini karena pekerjaan itu sudah menjadi sumber nafkah bagi warga Sungai Angit. Pembangunan kilang ini diperkirakan akan menghabiskan dana sebesar Rp 11 miliar.
Para penambang nanti harus menjual minyak mentahnya melalui koperasi yang dibentuk. Selanjutnya koperasi pengumpul minyak mentah warga ini akan menjualnya kepada kilang mini PT Kilang Muba.

Menurut Robert, selain di Sungai Angit, masih ada daerah lain yang juga menambang minyak secara tradisional, yaitu di daerah Penjering dan Batanghari Leko. Nantinya, buruh seperti Poniman yang tidak memiliki sumur sendiri diperbolehkan mengelola sumur lain yang belum dimanfaatkan.
Tujuan pembangunan kilang mini untuk memberikan keuntungan ekonomis kepada warga penambang dan meminimalkan kerugian lingkungan yang diakibatkan kegiatan penambangan dan penyulingan minyak rakyat ini. Selain itu, menghindarkan kerugian konsumen mengingat mutu bahan bakar minyak yang dari penambangan warga Sungai Angit berkualitas rendah.
"Jika nantinya kilang mini tersebut tidak menguntungkan, saya yakin semua akan kembali menyuling minyak mentahnya," kata Poniman.

No comments:

Ingin mendapatkan berita secara cepat? Silahkan anda masukkan kata kunci pencarian untuk mencari artikel yang anda cari di Berita Muba ini: